Fotoku

Fotoku
Guruh S. Utomo

Selasa, 27 Maret 2012



KATA PENGANTAR


Puji syukur kami panjatkan ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena dengan pertolonganNya kami dapat menyelesaiakan karya ilmiah yang berjudul ‘Remaja dan Pergaulan Bebas’. Meskipun banyak rintangan dan hambatan yang kami alami dalam proses pengerjaannya, tapi kami berhasil menyelesaikannya dengan baik.
Tak lupa kami mengucapkan terimakasih kepada ibu guru bahasa Indonesia yang telah membantu kami dalam mengerjakan karya ilmiah ini. 
Tentunya ada hal-hal yang ingin kami berikan kepada masyarakat dari hasil karya ilmiah ini. Karena itu kami berharap semoga karya ilmiah ini dapat menjadi sesuatu yang berguna bagi kita bersama.
Pada bagian akhir, kami akan mengulas tentang berbagai masukan dan pendapat dari orang-orang yang ahli di bidangnya, karena itu kami harapkan hal ini juga dapat berguna bagi kita bersama.
Semoga karya ilmiah yang kami buat ini dapat membuat kita mencapai kehidupan yang lebih baik lagi.











 DAFTAR ISI






















Masa remaja adalah masa yang paling berseri. Di masa remaja itu juga proses pencarian jati diri. Dan, disanalah para remaja banyak yang terjebak dalam pergaulan bebas.

Menurut Program Manajer Dkap PMI Provinsi Riau Nofdianto seiring Kota Pekanbaru menuju kota metropolitan, pergaulan bebas di kalangan remaja telah mencapai titik kekhawatiran yang cukup parah, terutama seks bebas. Mereka begitu mudah memasuki tempat-tempat khusus orang dewasa, apalagi malam minggu. Pelakunya bukan hanya kalangan SMA, bahkan sudah merambat di kalangan SMP. ‘’Banyak kasus remaja putri yang hamil karena kecelakan padahal mereka tidak mengerti dan tidak tahu apa resiko yang akan dihadapinya,’’ kata cowok yang disapa Mareno ini pada Xpresi, Rabu (20/8) di ruang kerjanya.

Sejak berdirinya Dkap PMI tiga tahun lalu, kasus HIV dan hamil di luar nikah terus mengalami peningkatan. Setiap bulan ada 10-20 kasus. Mereka yang sebagian besar kalangan pelajar dan mahasiswa ini datang untuk melakukan konseling tanpa didampingi orang tua. ‘’Rata-rata mereka berusia 16-23. Bahkan ada yang berusia 14 tahun datang ke Dkap untuk konsultasi bahwa ia sudah hamil. Mereka yang melakukan konseling, ada datang sendiri, ada juga dengan pasangannya. Sebagian besar orang tua mereka tidak tahu,’’ ujarnya.

Meskipun begitu, lanjutnya para remaja yang mengalami ‘kecelakaan’ ini tak boleh dijauhi dan dibenci. ‘’Kita tidak pernah melarang mereka untuk melakukan hubungan seks, karena ketika dilarang atau kita menghakimi, mereka akan menjauhi kita. Makanya, Dkap disini merupakan teman curhat mereka dan kita memberikan solusi bersama. Seberat apapun masalahnya, kalau bersama bisa diatasi,’’ ungkapnya lagi.
Bukan hanya remaja nakal saja yang terjebak, anak baik pun bisa kena. ‘’Anak baik yang disebut anak rumah pun ada yang mengalami ‘kecelakaan’,’’ ucapnya.

Oleh sebab itu, sangat diperlukan pancegahan dini dengan memberikan pengetahuan seks. ‘’Pendidikan seks itu sangat penting sekali. Tapi, di masyarakat kita pendidikan seks itu masih dianggap tabu. Berdasarkan pengamatan kami, banyaknya remaja yang terjebak seks bebas ini dikarenakan mereka belum mengetahui tentang seks. Seks itu bukan hanya berhungan intim saja. Tapi, banyak sekali, bagaimana merawat organ vital, mencegah HIV dan lainnya. Pelajari seks itu secara benar supaya kita bisa hidup benar,’’ tuturnya.

Sementara itu, Martha Sari Uli pelajar SMAN 4 Pekanbaru mengaku interaksi bebas di kalangan remaja dalam pergaulan bebas, identik dengan kegiatan negatif. ‘’Banyak anak-anak remaja beranggapan bahwa masa remaja adalah masa paling indah dan selalu menjadi alasan sehingga banyak remaja yang menjadi korban dan menimbulkan sesuatu yang menyimpang,’’ ungkapnya ketika diminta komentarnya mengenai pergaulan bebas di kalangan remaja.

Senada dengan itu, Debora Juliana juga pelajar SMAN 4 Pekanbaru mengatakan pergaulan bebas itu saat ini sudah tidak tabu lagi, dan banyak remaja yang menjadikannya budaya modern. ‘’Pergaulan bebas berawal ketika remaja mulai melakukan perbuatan yang keluar dari jalur norma-norma yang berlaku di sekitar kehidupan kita. Sekarang banyak banget anak-anak seumuran kita sudah keluar dari jalurnya,’’ ujar cewek kelahiran 18 Juli 1993. ‘’Kalo aku nggak pernah melakukan hal tersebut dan jangan sampai lah,’’ tambahnya.

Di tempat terpisah, Ketua MUI Provinsi Riau Prof Dr H Mahdini MA mengatakan data yang ditemukan lebih banyak lagi anak-anak yang melakukan seks bebas. Maka diperlukan pencegahan. ‘’Saya meminta semua kalangan, baik para pendidik, orang tua, dan tokoh masyarakat agar memfungsikan tugas-tugas sosialnya,’’ pintanya.

Banyaknya kalangan remaja yang melakukan seks bebas, lanjutnya diindikasikan ada jaringan tertentu yang menggiring anak-anak ke hal yang negatif. Oleh karena itu, MUI menghimbau untuk menutup tempat yang berbau maksiat. ‘’Menutup tempat maksiat itu jauh lebih penting demi generasi muda,’’ sarannya.

Ditingkat pergaulan dalam kondisi hari ini, anak-anak bisa saja berbohong. Oleh sebab itu, sambungnya pengawasan orang tua harus diperketat. Tentu saja contoh perilaku orang tua sangat berperan.

Ia berharap, semua sekolah-sekolah tanpa terkecuali memperkuat kembali kehidupan beragama. ‘’Kita harus menanamkan nilai-nila agama sejak dini sehingga mereka memiliki kepribadian yang kuat,’’ katanya.

Hal yang sama juga diutarakan Drs Ali Anwar, kepala SMA 5 Pekanbaru. Menurutnya, akibat perkembangan zaman, ketika agama tidak lagi menjadi pokok dalam kehidupan banyak remaja yang terjebak dalam pergaulan bebas. ‘’Solusinya, kuatkan lagi ajaran agama. Baik di sekolah maupun di rumah agama merupakan kebutuhan pokok,’’ ucapnya.
Selain itu, orang tua harus lebih memperhatikan anaknya. ‘’Orang tua dan anak harus selalu berkomunikasi. Sehingga tahu persoalan anak,’’ ungkapnya.

Menyikapi hal ini, kepala Dinas Pendidikan Provinsi Riau, Drs HM Wardan MP mengatakan akan melakukan komunikasi dengan dinas pendidikan kabupaten/kota untuk membuat surat edaran ke sekolah-sekolah dalam mengantisipasi hal tersebut. ‘’Kita berharap jangan sampai terjadi hal tersebut karena akan merusak diri sendiri, sekolah, agama dan daerah,’’ ujarnya ketika ditemui usai acara pelantikan Persatuan Anak Guru Indonesia (Pagi) Provinsi Riau, Rabu (20/8) malam di Hotel Sahid Pekanbaru.








Remaja dan Narkoba


Dalam jurnal Prospective Study Of The Association Between Neurobehavior Disinhibition And Peer Environment On Illegal Drug Use In Boys And Girls. Remaja laki-laki lebih rentan untuk mengkonsumsi obat-obat terlarang di bandingkan dengan remaja perempuan ini di pengaruhi oleh aspek lingkungan, yang mencakup keluarga, sekolah, jaringan sosial, dan lingkunga. Aspek psikologi juga berpengaruh yakni gangguan perilaku yang mengakibatkan remaja laki-laki untuk mengkonsumsi narkoba dan memiliki motivasi yang rendah untuk berhenti menggunakan narkoba.
Perawat dalam perannya sebagai provider, edukator, advokator, dan role model dalam meningkatkan derajat kesehatan masyarakat termasuk penanganan penyalahgunaan narkoba pada remaja. Pertama, perawat sebagai provider (pelaksanaan) lebih  pada kemampuan perawat sebagai penyedia layanan keperawatan (praktisi) tidak hanya itu perawat harus mempunyai kemampuan bekerja secara mandiri dan kolaborasi, serta mempunyai pengetahuan tentang narkoba, keterampilan, sikap empati dalam pemberian asuhan keperawatan. Kedua, perawat sebagai edukator lebih menekankan pada tindakan promotif dengan cara melakukan pendidikan kesehatan tentang narkoba dan dampaknya bagi kesehatan remaja baik individu atau keluarga. Ketiga, perawat sebagai advokat dimana perawat berupaya melindungi klien, mengupayakan terlaksananya hak dan kewajiban klien, selalu “ berbicara untuk pasien” dan menjadi penengah antara klien dengan orang lain serta berpartisisipasi dalam menyusun kebijakan kesehatan terutama program rehabilitasi narkoba. Keempat, peran perawat sebagai role model yakni sebagai panutan yang dihargai oleh masyarakat terutama klien dan keluarga , dimana seorang perawat seharusnya terhindar dari segala kemungkinan terjadinya gangguan kesehatan.
Remaja yang  menyalahgunakan narkoba berhenti berkembang menjadi dewasa, atau “perkembangannya terhambat”. Pada umur 12 tahun memakai  narkoba, setelah memakai sejak 5-6 tahun akan menjadi pecandu. Pecandu dewasa yang mulai memakai narkoba pada usia 22 tahun, berbeda dengan pecandu yang mulai memakai pada usia 12 tahun, sehingga penanganan terhadap remaja pecandu berbeda dengan penanganan terhadap orang dewasa yang menjadi pecandu. Beberapa hal yang menyebabkan remaja menggunakan narkoba yakni, budaya mencari kenikmatan, kepribadian remaja, tekanan kelompok sebaya, keterasingan remaja, stres dan rasa tidak aman dana penilaian diri rendah.
Remaja yang stres lebih sering mengunjungi tempat-tempat hiburan malam dimana tempat tersebut banyak disediakan minum-minuman keras dan musik-musik yang dapat  menghilangkan kepenatan dan stres,  tidak hanya itu  obat-obat terlarang juga di jual bebas di tempat tersebut, dan di konsumsi untuk menghilangkan stres. Ini dibuktikan frekuensi terkait dengan penggunaan narkoba di lingkungan kehidupan malam lebih banyak. Ada 4 sumber tekanan terhadap kehidupan remaja yang pertama perorangan yang mencakup segala keinginan, kepercayaan, harapan, dan cita-cita, yang kedua keluarga meliputi kepercayaan dan harapan dari anggota keluarga, yang ketiga media komunikasi dan media massa seperti tv, majalah, radio, film, internet, billioard dan lain-lain.
Perawat  sebagai bagian dari tenaga kesehatan mutlak wajib melaksanakan fungsi untuk derajat penanganan penyalahgunaan Narkoba terutama pada remaja. Ada 3 fungsi perawat yang pertama independent yakni ”those activities that are considered to be within nursing’s scope of diagnosis and treatment” fungsi ini tindakan perawat tidak memerlukan perintah dari dokter untuk menangani narkoba. Tindakan perawat bersifat mandiri berdasarkan pada ilmu dan kiat keperawatan. Dalam kaitan dengan penanggulangan narkoba tindakan perawat diantaranya, pengkajian klien pengguna narkoba, membantu klien pengguna narkoba untuk memenuhi kegiatan sehari-hari dan m endorong klien berperilaku sewajarnya. Yang kedua interdependen adalah ”carried out in conjunction with other health team members”. Dalam fungsi ini perawat bekerjasama dengan tim kesehatan lain dengan cara pembentukan tim yang dipimpin oleh dokter dan anggota kesehatan lain bekerja sesuai kompetensinya masing-masing contoh tindakannya melakukan kolaborasi rehabilitasi klien pengguna narkoba, perawat bekerjasama dengan psikiater, social worker ahli gizi dan rohaniawan. Yang ketiga dependen adalah “ the activities perfomed based on the physician’s order”. Fungsi ini perawat bertindak membantu dokter dalam memberikan pelayanan medik seperti pengobatan atau pemberian psikofarmaka dan tindakan khusus yang menjadi wewenang dokter.
Tingkat pendidikan orang tua yang lebih tinggi membuat waktunya tersita untuk bertemu dengan keluarga dan anak yang merupakan titipan dari Tuhan untuk dibimbing dan diperhatikan. Orang tua hanya memberi uang yang dibutuhkan anaknya, sehingga anak merasa kurang diperhatikan dan mencari aktifitas tersendiri dan akhirnya terjerumus dalam narkoba. Tekanan psikologis anak remaja yang belum stabil dan faktor-faktor lingkungan yang mempengaruhi pola pikir anak, ditambah dengan kurangnya perhatian dari orang tua sehingga anak lebih memilih untuk menggunakan narkoba sebagai salah satu cara untuk mengkurangi stres.
Peran orang tua sangat penting untuk menghadapi kenyataan seperti di atas, pengawasan, kedisiplinan, dan gaya hidup keluarga menjadi jaminan bagi seorang anak agar terhindar dari bahaya narkoba sehingga orang tua perlu adanya pengetahuan mengenai narkoba itu sendiri. Narkoba merupakan bahaya terbesar yang merusak bukan hanya generasi sekarang tetapi juga generasi yang akan datang. Kita tidak bisa mengharapkan sesuatu yang ideal/baik dimasa datang kalau kita tidak mempersiapkannya sejak sekarang. Pembekalan pengetahuan tentang narkoba menjadi perlu untuk orang tua yang ingin menjaga anaknya dari bahaya yang merenggut fisik dan jiwa.  Peran orang tua harus mampu mengasuh anak dengan baik dengn penuh kasih sayang, disiplin, ajarkan untuk membedakan hal-hal yang baik dan buruk, mengembangkan kemandirian ciptakan suasana yang hangat dan bersahabat, orang tua menjadi contoh yang baik, kembangkan komunikasi yang baik sehingga dapat menjahukan anak dari pemakaian narkoba.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Di dalam mobil

Di dalam mobil
Guruh S U

Di depan kelas

Di depan kelas
Guruh S U

Bakar-bakar ikan di pinggir pantai

Bakar-bakar ikan di pinggir pantai
Guruh & Sony